HUBUNGI KAMI
ADDRESS

KANTOR MAJELIS DAERAH GPdI JATIM 

Jln. Dr. Soekarno 7-9 (Komplek SAB)

BEJI BATU JAWA TIMUR - 63111

Telepon/fax  0341 599672, 599674

HP 0813 3042 6152, 0812 3035 4787

OPERASIONAL KANTOR

SELASA - KAMIS,  PUKUL 09.00 - 16.00

© 2018 by MMX.

SERAHKANLAH HIDUPMU KEPADA TUHAN DAN PERCAYALAH KEPADA-NYA, DAN IA AKAN BERTINDAK

DIA AKAN MEMUNCULKAN KEBENARANMU SEPERTI TERANG DAN HAKMU SEPERTI SIANG

MAZMUR 37:5,6

Hak kita sebagai umat Tuhan, khususnya sebagai Hamba Tuhan akan dimunculkan Tuhan, sama halnya seperti Tuhan memunculkan "siang", ini penting untuk dicermati, supaya ketergantungan kita kepada Tuhan, dengan menyerahkan hidup dan percaya penuh kepada-Nya, dikerjakan dari hari ke hari dengan optimal, bukan sebaliknya, kita menggantungkan diri dengan pengharapan kepada orang lain, sebab, hanya Tuhan yang dapat memunculkan siang, dan saat Tuhan memunculkan siang - matahari dengan terang dan panasnya yang paling puncak - tidak ada satu kekuatan apa pun yang mampu menghalangi jika siang itu dimunculkan oleh Tuhan. 

Tuhan hanya mengerjakan bahagian-Nya untuk kita, saat kita mengerjakan bahagian kita untuk-Nya, bahagian kita tersebut tidak boleh keluar dari bingkai kebenaran, ingat kita sedang berhadapan dengan sumber berkat: Yesus adalah kebenaran (Yoh.14:6); Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (Yoh.15:26), yang memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh.16:13); karena itu, setiap kita tidak boleh ada hari tanpa keakraban dengan firman Tuhan yang adalah kebenaran (Yoh.17:17), supaya tujuan Roh Kudus diberikan itu tercapai, yakni agar kita mencapai kesempurnaan (Mat.5:48), kita mau dipimpin ke dalam seluruh kebenaran - dengan mengerjakan setiap kebenaran - kita mampu meraih kesempurnaan

Jika kita mensyukuri karya besar Yesus: kita dijadikan ciptaan baru (2 Kor.5:17), kita dipindahkan dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib (1 Ptr.2:9), kita sudah memiliki predikat sebagai orang benar, dengan Roh Kudus, kita akan memastikan jalan kita sebagai orang benar (Ams.4:18), seperti terang, yang kian bertambah terang hingga rembang tengah hari (puncak terang).

 Pastikan hak kita diberikan Tuhan seperti siang, itu Janji-Nya

Tuhan Yesus memberkati senantiasa

KUTUK BERUBAH MENJADI BERKAT

Seorang MOAB janganlah masuk jemaah Tuhan, bahkan keturunannya yang kesepuluh pun tidak boleh masuk jemaah Tuhan sampai selama-lamanya

ULANGAN 23:3

Kenapa ALLAH semarah itu??
Kutuk-NYA dari generasi ke generasi??
Apakah sisi kemahabaikan-NYA tutup??
Apakah Moab berhenti saja jadi bangsa??
Ataukah ASA kelak bisa merubah MASA??

Alkitab tidak memaparkan sedikit pun perbuatan dosa yang disengaja (direkayasa), baik itu perkataan, maupun tindakan, dari seorang yang hanya sebagai anak angkat, dibawa oleh Omnya menuju tanah perjanjian (penuh kemisterian), orang ini tidak pernah membantah bahkan melakukan tindakan pemberontakan kepada orang yang berjasa kepadanya yaitu Abraham. Namun setelah melewati ragam perjalanan dengan Abraham dan dengan Tuhan pastinya, dia semakin diberkati, tetapi perjalanannya menorehkan catatan hitam: saat kedua puterinya menginginkan generasi, solusi pasti hanya melalui Lot ayahnya. Generasi baru itupun lahir ke bumi dari hubungan antara Lot dengan puteri sulungnya, dan diberikan nama MOAB. Lot tidak punya andil sama sekali melalui perbuatan yang dengan akal sehat, dan kehadiran Moab pun tidak bisa dihindarkan, semuanya di luar kesadaran dari Lot.  

   Tidak ada yang salah sepertinya dalam pengalaman kelam itu, sabab Moab bayi yang dari hubungan tidak lajim tersebut, pada akhirnya menjadi bangsa yang besar, namun kembali Moab bersentuhan dengan sebuah tindakan yang mendatangkan kemurkaan dari Tuhan, KUTUK sampai selama-lamanya bagi Moab, menjadi jemaah Tuhan saja, bangsa Moab tidak diijinkan oleh Tuhan, kutukan yang mengerikan.

 

Nyatanya kutuk telah berubah menjadi berkat
MOAB  MENJADI NAMA KITAB
MASUK DI SILSILAH YESUS
BERKAT KHUSUS ini bukan diperoleh seperti hadirnya matahari dan hujan
Perlu meneladani RUT dengan langkah-langkah konkrit yang dikerjakannya:
1. LOYALITAS TANPA BATAS
Janda muda ini sudah berada di zona nyaman, meskipun dia kehilangan suami yang dicintainya, namun saat perpisahan itu tiba - mantan mertuanya Naomi akan meninggalkannya - dia tidak melihat semua kepastian di negerinya Moab, berbeda dengan iparnya Orpa, dengan logika sederhana dia memutuskan tidak pergi bersama Naomi mantan mertuanya ke Betlehem, tetapi RUT tidak luntur dalam konsep dirinya, membukti-kan LOYALITAS TANPA BATAS terhadap janda tua, yang tidak ada harapan cerah di masa depannya: RUT mengorbankan: negerinya, Allahnya, kewarganegaraannya, kenyamanannya, keluarganya, untuk membukti-kan loyalitas tanpa batas. Di akhir zaman, arena ini menjadi ruang yang diperdayakan oleh Setan, bahkan Yesus nubuatkan: di akhir zaman, kasih kebanyakan orang semakin dingin, mudah tergiur dengan ajaran-ajaran dari sumber lain. Paulus menegaskan: akhir zaman kesukaran bukan karena peperangan antar keraja-an, bukan karena bencana alam, tetapi loyalitas yang kian kandas (mementingkan diri sendiri, memberontak, garang, menghianat, tidak peduli agama dan Tuhan). Jika keadaan model manusia di akhir zaman tidak diper hatikan dan dihindarkan, berkat tidak akan terus kita dapat, bisa pasti BERKAT BERUBAH JADI KUTUK.
Ikut Naomi, menurut Orpa adalah kebodohan, loyalitas itu hanya untuk yang berkualitas dan memiliki fasilitas, Naomi jauh dari semuanya itu, jika membangun loyalitas, sama dengan mati kandas tanpa bekas.
Ikut Naomi menurut RUT bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan, sebab LOYALITAS TANPA BATAS, jika hanya karena kapasitas, fasilitas, itu bukanlah kualitas, orang  dunia juga bisa mengerjakannya (Matius 24:11,12; Matius 5:46-48; 2 Timotius 3:5), kita harus berlomba melakukan potret diri KRISTEN yang adalah miniatur KRISTUS, sebab kepada BAPA, tampilan YESUS 100% LOYALITAS TANPA BATAS, mari kita berlomba-lomba melakukan KEWAJIBAN KITA ini LOYALITAS TANPA BATAS (Ibrani 12:1,2; Rut.1:17)
2. PRODUKTIVITAS TANPA BATAS
   Yang dikerjakan oleh Rut, bukan hanya untuk kebutuhannya, tetapi juga untuk kebutuhan mantan mertua, yang dikerjakannya pun, bukan sesuatu yang membanggakan - hanya sebagai pemulung - namun  di tengah pekerja tetap di ladang Boas, Rut menunjukkan kecemerlangannya melebihi pekerja yang lain, dan ini diakui sendiri oleh Mandor di ladang Boas, janda bangsa Moab itu dari pagi sampai petang terus sibuk, tidak berhenti (Rut 2:7). Yesus mengatakan Bapa & Diri-Nya pun adalah Pribadi Produktivitas Tanpa Batas, lihat:
      -   Bapa-Ku bekerja sampai sekarang,, maka Aku pun bekerja juga (Yohanes 5:17)
      -   Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Matius 8:20)
  Kunci keberhasilan seperti yang diungkapkan Pengkhotbah 9:10...Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga...jangan berlindung di balik pengkultusan ayat Alkitab: Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja (Keluaran 14:14), bahkan ayat yang lebih kuat hipnotisnya: untuk apa susah payah, tidur saja Tuhan akan memberikan berkat-Nya (Mazmur 127:2), jika orang dunia berhasil, karna slogan abadinya: di mana ada kemauan (kerja keras) di situ pasti ada jalan (keberhasilan), rajin pangkal pandai (kaya). Yesus bekerja dengan sekuat tenaga, bahkan tidak ada waktu yang diijinkan-Nya terbuang percuma, produktivitas tanpa batas itu dibuktikan-Nya dengan kata penutup "Sudah selesai (sempurna)" (Yohanes 19:30). Roh Kudus dicurahkan dari tempat maha tinggi, bukan untuk membuat pribadi yang diurapi-Nya, mengerjakan bagiannya tidak optimal, sebab Roh Kudus memimpin ke dalam seluruh kebenaran (Yohanes 16:13) dan bekerja berprogres (ada kemajuan yang kian nyata) mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Boas tertarik dengan gaya hidup Rut: Loyalitas tanpa batas dan Produktivitas tanpa batas, dua unsur mulia ini juga yang mampu menarik perhatian Allah, supaya seburuk apa pun kutuk, bisa dirubah menjadi berkat, karena hatinya sungguh tertarik dan sangat bahagia.
 3. KUALITAS TANPA BATAS
   Acap kali jawaban atas pertanyaan: Berapa orang anak Yakub? Jawaban mudahnya dan seragam: 12 orang, karena tradisi Israel, yang dihitung hanya anak laki-laki. Perempuan-perempuan Israel mengungkapkan kebanggaan terhadap Rut perempuan Moab, yang setelah menjadi isteri konglomerat bernama Boas, tetap menunjukkan loyalitas tanpa batas, produktivitas tanpa batas terhadap Naomi mantan mertuanya, RUT ini disebutkan oleh perempuan-perempuan Moab itu, melebihi tujuh anak laki-laki Israel (Rut 4:15). Tidak ada alasan yang bisa dikemukakan oleh Tuhan untuk tidak merubah kutuk kekal menjadi berkat, sebab ada Rut yang luar biasa, menunjukkan sikap diri, bukan seperti kebanyakan perempuan lainnya, khususnya jati diri sebagai mantan anak menantu, kepada Naomi mantan Ibu Mertua, Rut membuktikan tidak ada rasa puas, dengan ragam bakti diri terhadap Naomi, terus dan terus berbakti, sebagaimana yang diungkapkan Paulus: "Kita lebih dari pada orang-orang yang menang" (Roma 8:37), sama halnya pengakuan ratu Syeba terhadap raja Salomo, apa yang didengarnya tentang Salomo, hanya bahagian kecil dari apa yang dilihatnya sendiri tentang Salomo raja ketiga Israel, sungguh ratu Syeba terkagum-kagum, melihat adanya Kualitas tanpa batas dari seorang janda muda bangsa Moab, kepada mantan mertuanya 'Naomi'. Tuntutan kualitas iman sesuatu yang berada di ruang kewajiban orang percaya, berjuang menghasilkan kualitas iman yang prima: emas, perak dan batu permata (1 Korintus 3:13), dan memiliki sesuatu yang tanpa batas, baik itu loyalitas, maupun produktivitas, ini yang menggairahkan setiap hamba Tuhan di ladang Tuhan, sehingga kualitas tanpa batas itu mampu menggetarkan sorga. dan penguasa sorga dan bumi itu, membukakan pintu rachmat-Nya.

SEMINAR YANG DISELENGGARA KAN OLEH KOMISI DAERAH

PELWAP dan PELPRIP Jawa Timur

GPdI LEMBAH DIENG MALANG

RABU - 12 JUNI 2019    10.00 - 16.00

EV. JOHANES CH. HUTAGALUNG

MATERI SEMINAR YANG MEMBERKATI:

KELUARGA DENGAN KARAKTER KRISTUS

, . . . . .

Pembentukan keluarga sangat penting bagi Allah

Pada mulanya Allah Ciptakan (Kej.1:1-25):

  1. Langit dan bumi

  2. Memisahkan terang daru gelap

  3. Memisahkan cakrawala denga air

  4. Darat dan laut

  5. Tumbuhan dan binatang

  6. Benda-benda penerang

Lalu Allah menciptakan manusia, menurut gambar dan rupanya, sebagai keluarga, lalu Allah memberikan: berkat, keturunan, kuasa untuk menak lukkan dan menikmati ciptaan-Nya Damai sejahtera sukacita berkelimpa han.  Jadi sebelum Allah menciptakan keluarga, pertama Allah sudah menyiapkan terlebih dahulu, semua yang akan dibutuhkan oleh keluarga

Yesus datang kepada keluarga, yang sedang mengalami kesulitan besar:

1, Perkawinan di Kana (Yoh.2:1-11), meski waktu bagi Yesus belum tiba, demi menjaga kehormatan keluarga, Yesus mengubah air menjadi anggur super manis. 2, Anak perempuan Kanaan yang kerasukan setan (Mat.15:21-28); 3, Membangkitkan anak perempuan (Mat.9:18-26); 4, Membangkitkan anak laki-laki tunggal dari ibu janda di kota Nain (Luk.7:11-17); 5, Membangkitkan Lazarus telah dikubur selama 4 hari (Yoh.11:1-44)

Kepentingan Allah untuk memberkati keluarga, tetapi

Iblis berkepentingan untuk merusak keluarga

Serangan Iblis yang sangat serius adalah menarik keluarga untuk keluar dari rencana Allah, gagal memiliki  karakter yang Allah rencanakan. Ingat!! Apa yang penting bagi Allah, penting juga bagi Iblis untuk dihancurkan: Membuat manusia tidak taat (Kej.1:27-2:25) ð (Kej.3:16-24), anggota keluarga dipakai oleh Iblis sebagai sarana untuk menyakiti Allah (Yoh.14:15, 21, 23), keluarga anak-anak Allah terpecah-pecah: Perioritas dan tujuan yang berbeda; Berjalan sendiri-sendiri; Tidak memiliki kepedulian; Saling menyakiti, merandahkan dan mengecewa kan; Saling menyindir dan gampang marah; Melakukan hal-hal yang buruk; Menjauh dari Tuhan; Keluarga menjadi terpecah-pecah dan tidak bisa bertahan (Mat.12:25b); berpotensi runtuh (Luk.11:17b). Padahal: bila anggota keluarga diam bersama dengan rukun, ke sanalah Tuhan akan memerintahkan berkat dan kehidupan untuk selama-lamanya (Mazmur 133)

Suami dan Isteri, bekerjasamalah dengan Allah

untuk memelihara, mementingkan, mempertahankan keluarga;

jangan bekerja sama dengan Iblis untuk menyerang, 

merusak, menyakiti, menghancurkan keluarga.

 

Bagaimana agar keluarga kembali kepada rencana Allah

dan memiliki karakter Kristus?

     Suami isteri yang beriman: Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia Iman kita (Yoh.5:4,5). Keluarga yang sudah percaya kepada Allah, sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik (Tit.3:8), masing-masing mengalirkan aliran-aliran air hidup (Yoh.7:38); selalu sehati dan sejiwa (Kis.4:32a)

     Suami isteri yang taat:  mengasihi Yesus dan taat menuruti firman Tuhan sehingga terjadi Imanuel dan bapa di sorga dipermuliakan (Yoh.14:23); menjadi pelaku firman Tuhan, pribadi yang bijaksana, tangguh di tengah ujian berat (Mat.7:24,25)

     Suami isteri yang taat tidak mengandalkan pengertian dan pemikirannya sendiri, fokus kepada Yesus (2 Kor.10:5b), merendahkan diri seperti Yesus untuk dapat saling melayani (Flp.2:8); taat seperti Yesus, sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat, dari apa yang telah diderita-Nya (Ibr.5:8)

     Suami isteri yang takut (tunduk) akan Tuhan: gentar, hormat, merendahkan diri, bukan takut untuk dihukum, akan tumbuh rasa tanggung jawab menghormati janji perkawinan, karena kehidupan keluarga yang takut akan Tuhan: Kebutuhan keluarga akan dipenuhi (Mzm.145:19); Anak cucu akan mewarisi negeri dan perkasa di bumi (Mzm.25:12,13; 112:1,2);  Senantiasa diberikan rezeki, turun temurun (Luk.1:50; Mzm.111:5); Tidak akan mengalami kekurangan (Mzm.34:10); Kebahagiaan dari generasi ke generasi (Mzm.112:1; Ams.28:14).

     Keluarga harus belajar takut akan Tuhan, dalam hal: Persepuluhan (Ul.14:22,23); Tidak menahan kasih sayang kepada sesama (Ayb.6:14); Menjauhi kejahatan (Ams.16:6b; Neh.5:15; Ams.16:6b)

Hubungan suami dengan isteri sama dengan hubungan Kristus dengan  jemaat (Ef.5:22-32): Suami memperlakukan isteri sebagaimana Kristus terhadap jemaat; Isteri memperlakukan suami sebagaimana jemaat terhadap Kristus. Suami sebagai imam dan pemimpin; suci dan kudus (Im.21:1-24; 1 Kor.7:14) dan Isterinya pun kuat spritual, suci dan kudus (Tit.2:5; 1 Kor.7:14)

     Sebagai imam dan pemimpin, suami dipanggil oleh Allah sendiri (Ibr.5:4); mempunyai relasi yang intim dengan Allah (Ibr.5:1); Membawa dirinya kepada Allah (Ibr.5:3); Sebagai pemimpin, suami

juga diminta memiliki hati melayani. Suami seyogyanya memiliki keputusan yang tepat (Kel.20:5, Yeh.18:14-19; 1 Raj.11,15:1-8) dan menjadi imam yang bertanggungjawab (Kej.3:6, 9-12, 16,17). Suami yang bertanggungjawab sebagai imam, hidup di dalam kebenaran, yang mampu menumbuhkan damai sejahtera, sehingga menikmati ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya (Yoh.14:6, 27; Yes.32:17)     

     Isteri yang kuat spritualnya: Mau menerima ajaran (1 Tim.2:11); Mengajarkan yang baik (Tit.2:3; Ams.1:8); Mengajak keluarga beribadah (Tit.2:3); Isteri menjadi pembawa berkat (Mzm.128:3). Isteri yang terhormat dan baik: mampu menahan diri, jangan pemfitnah, dapat dipercaya, hendaklah dandanannya perbuatan baik, berakal budi sehingga tidak mudah menghina, tidak cepat marah, tetapi rajin mengatur rumah tangganya (Tit.2:5), agar menjadi mahkota bagi suaminya (Ams.12:4), agar menyinarkan kemuliaan suaminya (1 Kor.11:7).

     Hubungan suami isteri harus dibangun di bingkai keharmonisan, saling menghormati, supaya doa tidak terhalang (1 Ptr.3:7). Suami Isteri membangun keintiman dengan Roh Kudus (Efs.6:18), karena ketika dalam kelemahan, maka Roh Kudus akan membantu (Rm.8:26). Sebagai isteri banyak membangun komunikasi dengan keluarga - jangan sibuk bergosipria dengan tetangga – dan  dengan Allah. Ini akan memberikan jaminan janji Tuhan dinyatakan: berbahagia karena kediamannya diberkati, bahkan sampai ke anak cucu (Ams.20:7; 3:33, Rm.4:6, Mzm.37:25,26)

     Suami isteri berpegang kepada pengertian agar memperoleh kebahagiaan (Ams.19:8), jika suami sebagai pendengar yang baik, maka isteri akan menjadi penolong yang baik; jika suami seorang penyabar, maka isterinya akan lemah lembut. Sebaiknya masing-masing cepat dalam mendengar tetapi lambat untuk berkomentar, karena telinga dua sedangkan mulut satu. Karena isteri sebagai penolong, maka seyogyanya suami merawat sang isteri: jangan merasa diri tidak perlu ditolong, jangan buat isteri sebagai pelengkap, jangan remehkan isteri, jangan membuat isteri tertekan, sakit hati, jengkel, marah. Sebaliknya isteri menjaga kepercayaan dari suami: jangan rongrong suami, agar tidak jatuh ke jurang pencobaan, dorong dan dukung suamo ke arah yang tepat dan benar. Hindari pertengkaran, karena bagi suami, lebih baik tinggal di sudut soto rumah atau di padang gurun, dari pada diam serumah dengan isteri yang suka bertengkar, pemarah (Ams.21:9,19). Isteri yang sabar dan lemah lembut, meredakan kegeraman dan perbantahan (Ams.15:1,18).

     Sangat baik jika isteri meluangkan waktu untuk saling memuji – ini wujud bersyukur atas pasangan yang diberikan Tuhan – lalu  kemudian memberikan evaluasi diri. Kesulitan memuji pasangan, karena kecenderungan hanya melihat kekurangan, reaksi cepat (negatif) menimbulkan rasa sakit dan luka, yang bisa menjadi racun yang sangat berbahaya, mempertahankan dan menyimpan rasa sakit hati adalah tindakan penghancuran diri. Jika tersakiti, serahkan semuanya kepada Allah, sebab kita anak-Nya, biji mata-Nya (Ul.32:10); saat kita disakiti, tentunya Allah lebih sakit, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, setan yang harus dilawan dan dikalahkan, segera lakukan pengampunan (Mat.6:15), segera cabut akar pahit, jika tidak akan tumbuh pohon kepahitan yang menghasilkan daun dan buah kepahitan (Ibr.12:15).

      Pengampunan sebuah keharusan, jika diabaikan maka:  keluarga menjadi arena konflik, hati semakin terluka, jiwa dan tubuh gampang sakit, akan terpisah dengan Tuhan dan dengan orang yang terkasih. Jika Allah mengampuni manusia, saat manusia tidak layak diampuni, seyogayanya sesama manusia – apalagi pasangan hidup – harus mengampuni, meskipun tidak layak untuk diampuni.

     Pernikahan bukan hanya tentang perasaan tetapi lebih kepada perjanjian, ingat Yesus berjanji akan menyertai umat-Nya sampai kepada akhir zaman, termasuk menyertai dan menjaga keluarga. Jangan mencari pembenaran lalu tidak melepaskan pengampunan: merasa sudah tidak cocok, mencari pembenaran dari Alkitab yang mengijinkan perceraian. Suami isteri satu daging, keduanya dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia dengan alasan apa pun (Mrk.10:8,9), perceraian bukan diijinkan Tuhan, tetapi pemaksaan akibat ketegaran masing-masing pasangan. Bercerai lalu kawin lagi, perkawinan tersebut suatu perzinahan. Jangan ada perpecahan, sebaiknya erat bersatu dengan sehati, sepikir, seia sekata (1 Kor.1:10). Dari semula Allah menginginkan keturunan Ilahi dari keluarga, karena itu jangan ada yang berhianat (Mal.2:15,16), setiap pasangan harus tetap setia, memposisikan pasangannya seperti memposisikan Kristus: suami mengasihi isteri seperti Kristus mengasihi jemaat; isteri tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus. Ketundukan isteri kepada suami, mampu mengubah karakter suami, kemurnian dan kesalehan isteri akan memenangkan suaminya (1 Ptr.3:1,2). Suami isteri harus saling menghormati, karena mereka sebagai pasangan yang setara (sepadan), teman pewaris kasih karunia yaitu kehidupan
MENJADI     JEMAAT
                                               YANG    BERTUMBUH  

Pdt. Dr. ADI SUJAKA , M.Th. (Ketua MD Jatim)

WAHYU 2:1-7

      A. PENDAHULUAN

     Jemaat Efesus adalah jemaat yang besar, kuat, dan strategis di abad pertama. Efesus adalah sebuah kota kuno bertaraf internasional dengan jumlah penduduk 350.000 orang dan saat itu memang termasyhur sebab sejak tahun 133 sM. menjadi pusat perdagangan di Provinsi Asia yang ada di bawah kekaisaran Roma.

Lukas melaporkan mengenai pertumbuhan jemaat di Efesus yang

berdampak bagi seluruh Asia (Kis.19:10), padahal jemaat ini berada di kota Efesus yang pada saat itu menjadi pusat penyembahan berhala maupun penyembahan pada kaisar. Lalu bagaimana mungkin jemaat yang awalnya kecil (dimulai dengan 12 jiwa ini) serta menghadapi begitu banyak tantangan, bisa menjadi jemaat yang bertumbuh luar biasa? Jemaat Efesus bisa menjadi contoh gereja di masa kini, bahwa tantangan bukanlah halangan untuk mengalami

pertumbuhan. Kita bisa mengetahui faktor-faktor

apa saja yang membuat jemaat Efesus bertumbuh dari surat rasul Yohanes kepada jemaat Efesus dalam Wahyu 2:1-7, sebab dalam surat ini rasul Yohanes mengulas kelebihan-kelebihan jemaat Efesus yang mendorong pertumbuhan mereka, maupun kekurangan jemaat Efesus yang bisa menyebabkan mereka jatuh.

      B. POSISI KRISTUS

      Dalam Wahyu 2:1 Yesus Kristus sebagai pemberi wahyu dinyatakan sebagai “Dia yang memegang ketujuh bintang di tangan kanan dan berjalan di antara kaki dian.” Pada ayat sebelumnya yaitu Wahyu 1:20 dituliskan bahwa ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat, dan kaki dian ialah ketujuh jemaat.

Kata “malaikat jemaat” bisa mengacu pada imam atau pendeta (Mal.

2:7). Sehingga beberapa penafsir beranggapan bahwa ketujuh bintang mengacu kepada hamba-hamba Tuhan yang sejati yang saat itu memimpin ketujuh jemaat. “Tangan kanan” Yesus adalah lambang kekuasaan dan kekuatan-Nya. Jadi dapat diartikan bahwa jemaat-jemaat adalah milik-Nya dan ada dalam perlindungan-Nya, mereka ada dalam genggaman tangan-Nya sehingga tak ada apapun yang dapat memisahkan jemaat dari Yesus Kristus kecuali mereka sendiri yang meninggalkan Dia. Yesus “berjalan di antara kaki dian”

bicara mengenai kehadiran Kristus di antara jemaat. Jadi Dia tidak hanya memiliki dan melindungi jemaat, tetapi Dia juga ada di antara jemaat, menyertai dan memimpin jemaat, serta memberi petunjuk-petunjuk kepada mereka. Jadi di dalam Wahyu 2:1 ini, Yesus telah

menegaskan diri sebagai kepala jemaat dan pelindung jemaat.

Dialah yang berhak menilai jemaat. Dalam ayat-ayat selanjutnya

terbukti bahwa Dia menilai setiap jemaat: menunjukkan penghargaan; menunjukkan kekurangan; serta memberi peringatan kepada jemaat. Ayat ini mengajar kita bahwa hanya penghargaan dari Tuhanlah yang harus dikejar oleh jemaat dan bukan  penghargaan manusia sebab Dialah kepala jemaat dan kepada Dialah semua jemaat harus bertanggung jawab.

                PENDORONG PERTUMBUHAN JEMAAT EFESUS

     Jemaat Efesus dimulai dari 12 jiwa dan dari 12 jiwa menjadi satu

jemaat. Sebenarnya yang penting bukan jumlah jemaat (kuantitas), yang penting jemaat mengalami pertumbuhan iman (kualitas), yang dampaknya kepada pertambahan jumlah seperti jemaat Efesus. Dari 12 jiwa yang dibaptis Paulus akhirnya menjadi jemaat yang aktif sehingga seluruh penduduk Asia mendengarkan firman Tuhan (Kisah Para Rasul 19:10).

     Bagaimana jemaat Efesus mengalami pertumbuhan yang pesat? Wahyu 2:2-3 mengungkapkannya. Ayat ini menuliskan penghargaan Tuhan atas pelayanan yang sudah dilakukan jemaat Efesus. Melalui ayat ini kita mengetahui ciri-ciri atau sifat-sifat yang telah mendorong pertumbuhan jemaat Efesus.

     1. Kerja Keras, Tidak Mengenal Lelah (Kopos)

      Wahyu 2:2-3 mengatakan bahwa Tuhan tahu jerih payah mereka, dan bagaimana mereka bekerja keras serta tidak mengenal lelah. Artinya Tuhan mengingat serta menghargai pelayanan dan pengorbanan setiap orang yang telah melayani di jemaat ini. Selain

Paulus, ada 15 nama tokoh lain yang turut merintis dan membangun

jemaat ini, seperti: Apolos, Epafras, Akwila, Priskila, Timotius, Erastus,

Gayus, Aristarkhus, Lukas, Trofimus, Tikhikus, dll. Bahkan rasul Yohanes yang menulis kitab Wahyu juga pernah menjadi pendeta senior di sana selama beberapa tahun. Sejarah mencatat bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memberikan segala sesuatu dan bahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan, mereka berjerih payah membanting tulang di ladang Tuhan. Contohnya Paulus yang merintis jemaat ini selama 3 tahun. Selama 2 tahun penuh ia

mengajar dari jam 11.00 siang hingga jam 16.00 sore di ruang kuliah milik seseorang yang bernama Tiranus (Kis 19:9). Kerja keras mereka tidak hanya dalam menginjil dan mengajar (Kis. 20:31), namun juga dalam mencari uang untuk mendanai pelayanan mereka. Paulus,

Akwila dan Priskila membiayai sendiri kegiatan itu dengan membuat tenda pada malam hari dan menjualnya pada pagi hari (Kis. 18:3). Demikianlah Paulus bersama Akwila dan Priskila bekerja keras untuk membiayai kegiatan penginjilan mereka di Efesus (Kis. 20:34).

Setiap kerja keras pasti membuahkan hasil. David Yonggi Co memulai penginjilan di tepi jalan yang memenangkan beberapa jiwa. Lalu dari jiwa-jiwa yang didapat di tepi jalan maka terbentuklah jemaat pinggir kota. Dengan anugerah Tuhan dari orang-orang sederhana, jemaat ini bertumbuh dan bertambah-tambah sehingga sekarang menjadi sekitar 1.000.000 jiwa. Begitulah jemaat Efesus mengalami pertumbuhan (yang artinya bertambahnya jiwa-jiwa lewat kesaksian).  Begitulah gereja harus memberitakan Injil kepada orang lain sebab gereja ada untuk memberitakan kabar  keselamatan. Jadi umat-umat yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan juga harus didorong untuk memberitakan Injil kepada orang lain. Bila kita bersaksi Roh Kudus akan mengurapi kesaksian kita sehingga gereja mengalami

bertambahnya jiwa-jiwa lewat kesaksian orang percaya. Pekerjaan

Tuhan juga butuh dana sehingga jemaat juga didorong agar berkorban di ladang Tuhan, mereka diberkati untuk memberkati, sehingga jiwa-jiwa dapat dibawa kepada Tuhan.

       2. Tekun, Sabar, Tabah (Hupomone)

        Wahyu2:2-3 menyebut ketekunan dan kesabaran jemaat Efesus. Kedua kata tersebut berasal dari kata yang sama (hupomone) yang juga berarti tabah dan pantang menyerah. Allah tidak bisa memakai orang-orang yang cepat putus asa, oleh karena itu kita harus sabar dalam menanggung penderitaan karena nama-Nya. Jemaat Efesus menerima penghinaan dan kebencian dari orang Yahudi yang

menolak Injil (Kis. 19:9) maupun aniaya dari golongan nonyahudi (Kis.19:29). Paulus sendiri menurut G.S.Duncan dalam bukunya “St Paul’s Ephesian Ministry” telah dipenjarakan tiga kali selama di Efesus. Ini sesuai dengan perkataan Paulus dalam 1Kor.15:32 yang mengatakan bahwa ia harus berjuang menghadapi kebuasan dari kekuatan-kekuatan politik dan agama kafir di Efesus yang berusaha

menghambat pertumbuhan jemaat Efesus. Yesus selalu mengajar bahwa barang siapa mau mengikut Dia, harus memikul salibnya setiap hari. Ini artinya mau menanggung penderitaan karena nama-Nya. Karena itu kita harus mendewasakan jemaat agar mereka tidak terus menjadi bayi rohani, tetapi tumbuh semakin dewasa di dalam kasih dan iman, tabah menghadapi cobaan, sabar, dan membalas kejahatan dengan kebaikan. 

     3. Murni dalam Pengajaran

     Dalam perpisahannya Paulus berpesan pada penatua Efesus untuk menjaga jemaat sebab Paulus tahu bahwa serigala-serigala yang ganas (guru-guru palsu) akan segera masuk dan berusaha menarik jemaat dari jalan yang benar (Kis. 20:28-31). Dan benarlah apa yang dikatakan Paulus. Segera setelah Paulus pergi, ia menugaskan Timotius di Efesus untuk menghadapi guru-guru sesat

(1Tim. 1:3). Ajaran sesat yang saat itu dihadapi jemaat Efesus ialah: Materialisme, Antinomianisme, Paganisme, Sinkretisme, dan Legalisme.   

      a. Bersih dari Materialisme

      Jemaat Efesus menang dalam perjuangan melawan Materialisme

(Why. 2:2) yang secara tak langsung masuk melalui rasul-rasul palsu yang bermegah secara keduniawian ((2Kor.11:13-18). Wajar jika materialisme melanda Efesus mengingat saat itu Efesus menjadi kota perdagangan yang kaya dan terkenal. Efesus memiliki 6 faktor yang dibutuhkan sebuah kota untuk menjadi terkemuka. 

     Pertama, Efesus memiliki pelabuhan laut terkemuka yang menjadi pusat kegiatan ekspor, terhubung ke Roma dan berbagai kota lain.

     Kedua, Efesus adalah kota terbesar keempat dalam wilayah kekaisaran Roma dan berada di jalur lalu lintas perdagangan tiga kota besar yakni Mesopotamia, Galatia, Lembah Meander sehingga kekayaan ketiga kota itu dijual di pasar Efesus. Jelas sekali bahwa pasar di Efesus penuh dengan segala macam barang mewah.

    Ketiga, Efesus bernilai budaya tinggi dengan jalan-jalan yang amat baik dengan barisan pilar-pilar yang indah. Di pusat kota Efesus terdapat gedung kesenian atau teater (Kis. 19:29-31), tempat pemandian, perpustakaan, dan pasar dimana jalan-jalannya diperkeras dengan batu pualam yang indah. Bangunan gedung teater di Efesus menunjukkan struktur yang indah dan paling besar dari semua gedung teater yang pernah ada sebab mampu

mengakomodasi sekitar 56.700 orang. Gedung itu juga menjadi tempat para olahragawan berlomba, seperti tercantum dalam surat Paulus pada Timotius.

     Keempat, Efesus diberi keistimewaan otonomi oleh Roma untuk memerintah daerahnya sendiri. Untuk itu kemewahan kekaisaran Roma turun untuk menghormati Efesus secara rutin seperti: kedatangan utusan Roma untuk menangani kasus-kasus penting

yang disambut dengan mewah. Jadi penduduk Efesus sudah biasa

menyaksikan kemewahan kebudayaan Yunani dan Romawi.

     Kelima, Efesus memiliki nilai budaya yang tinggi, terbukti dengan

diadakannya Festival Panonia setiap bulan Mei. Festival ini setara dengan Olimpiade sehingga menyedot banyak wisatawan.

     Keenam, Efesus memiliki salah satu keajaiban dunia yaitu kuil Artemis (kuil Diana) yang sangat besar dan indah, bergaya seni Yunani, dihiasi dengan karya seni dari pakar seni seperti Fidias, Praksiteles dan Apeles, dengan panjang 425 kaki, luasnya 220 kaki, jumlah tiangnya 127 dan masing-masing tiang 60 kaki tingginya. Karena itu banyak orang dari seluruh Asia dan Eropa datang ke Efesus untuk sekedar melihat keindahannya maupun untuk “beribadah” di kuil. Hal ini menjadi salah satu faktor kemakmuran

Efesus sebab penduduknya membuat miniatur patung dan kuil Artemis untuk dijual kepada wisatawan sebagai cinderamata, jimat, atau sesembahan. Kita dapat membayangkan sebuah kota yang pada 2000 tahun yang lalu sudah memiliki fasilitas seindah dan selengkap itu yang bahkan tidak dimiliki kota kita saat ini. Mungkin

kota kita memiliki satu atau dua faktor saja. Singapura, hanya memiliki dua faktor yakni pelabuhan internasional dan terletak di jalur lalu lintas perdagangan internasional dan itu sudah membuat

Singapura menjadi negara maju. Dapat dibayangkan betapa maju,

makmur, dan termasyurnya Efesus yang memiliki semua faktor. Seiring dengan kemakmuran itu jemaat Efesus

menghadapi godaan untuk bermegah dalam kemakmuran dan jatuh dalam materialisme, seperti juga dialami gereja-gereja di kota besar di masa kini yang telah mapan dan terseret dalam Teologi kemakmuran. Demikian pula jemaat Efesus dimasuki ajaran rasul-rasul palsu yang bermegah dalam keduniawian (2Kor. 11:13-18), namun mereka dipuji oleh Tuhan sebab mereka menolak ajaran rasul-rasul palsu tersebut (Why. 2:2).

      b. Bersih dari Antinomianisme

      Jemaat Efesus tetap teguh menghadapi Antinomianisme dan imoralitas (Why.2:6). Sebagai kota besar Efesus penuh

 dengan kegiatan-kegiatan yang tak bermoral.  Di dalam kuil Artemis (kuil Diana) terdapat ribuan imam perempuan yang siap “melayani” siapa saja yang beribadah di kuil itu. Kuil itu sama dengan tempat pelacuran dan ritual-ritual menjijikkan dan tak bermoral terjadi di dalam kuilrsebut. Antinomianisme yakni faham sekelompok orang Kristen saat itu yang berprinsip bahwa Kristus telah memerdekakan manusia dari perbudakan Taurat dan mengartikannya sebagai kemerdekaan total dari segala pengekangan. Faham ini dianut pengikut Nikolaus yang mencampur kekristenan dengan

 kebiasaan dalam penyembahan berhala yang melibatkan seks. Kehidupan pengikut Nikolaus ini tidak bermoral, cabul, sebab menerapkan  penyelewengan seksual seperti dalam

ibadah kafir. Kita hidup di bawah kasih karunia tapi tidak berarti bebas menuruti keinginan daging seperti yang dianut paham antinomianisme, sebab kita bukan lagi hamba dosa melainkan hamba kebenaran yang harus menyerahkan tubuh kita untuk dipakai menjadi senjata kebenaran. Jemaat Efesus

dipuji karena tidak mengikuti ajaran Nikolaus.

      c. Bersih dari Paganisme

      Jemaat Efesus tetap teguh menghadapi Paganisme atau penyembahan berhala. Penduduk Efesus menyembah dewi

Diana atau Artemis yang patungnya dianggap jatuh dari langit (Kis.19:35). Patung berhala itu hitam, pendek, kasar, dan sebenarnya berasal dari pecahan suatu meteor namun

dipercaya sebagai patung dewi Artemis, dewi pelindung mereka.   Orang Efesus juga menyembah kaisar. Banyak kuil-kuil dibangun untuk menghormati kaisar Klaudius, Hadrianus, dan Severus. Kedua objek penyembahan orang Efesus ini dibuktikan dengan mata uang Efesus kala itu, di satu sisi terdapat gambar kaisar Roma dan sisi yang lain kuil Diana.

Namun karena kerja keras maka banyak orang Efesus yang bertobat setelah mendengar Injil. Bahkan musuh-musuh Paulus pun mengiyakan bahwa Injil sudah tersebar di seluruh Efesus, bahkan seluruh Asia mendengar Injil yang diberitakan oleh Paulus (Kis. 19:26).

      d. Bersih dari Sinkretisme

     Jemaat Efesus juga menang dalam perjuangan melawan Sinkretisme, yaitu pencampuran agama dengan kuasa-kuasa gelap atau kekuatan sihir. Orang Efesus dikenal terikat dengan

ilmu-ilmu gaib. Praktek perdukunan dan sihir menjadi kelaziman dari seni gaib di Efesus. Dibuktikan dengan praktek ketujuh tukang jampi (dukun) anak imam kepala Yahudi

bernama Skewa (Kis. 19:13-14); serta banyaknya kitab-kitab sihir yang dibakar oleh para dukun lain yang telah bertobat (Kis. 19:19). Kitab-kitab itu berisi mantra-mantra untuk  dilafalkan dalam praktek mereka. Dituliskan bahwa nilai kitab-kitab yang dibakar bernilai 50 ribu uang perak (kalau sekarang kurang lebih 10 ribu dolar atau 100 juta rupiah). Setelah peristiwa kekalahan kuasa gelap oleh Nama Yesus di Efesus,

Injil makin tersiar dan makin berkuasa (Kis. 19:20).

     e. Bersih dari Legalisme

     Jemaat Efesus tetap teguh menghadapi Legalisme Yahudi yang menekankan pelaksanaan hukum Taurat sebagai model kehidupan Kristen. Hukum Taurat yang ditolak jemaat Efesus

bukanlah Sepuluh Hukum Tuhan (Dasa Titah) tapi sejumlah besar aturan hukum seremonial, hukum perdata, dan hukum pidana. Ada golongan orang Yahudi yang sudah bertobat dan memaksa orang Kristen nonYahudi untuk melaksanakan

aturan-aturan hukum Taurat tersebut. Inilah yang ditolak oleh Paulus serta rekan-rekan sekerjanya di Efesus. Orang Kristen tidak lagi wajib tunduk pada seluruh aturan agama Yahudi

sebab kematian dan kebangkitan Yesus telah membebaskan orang percaya dari kewajiban Taurat.

      D. PENGHAMBAT PERTUMBUHAN JEMAAT EFESUS

      Bukan kebetulan kalau dalam surat kepada tujuh jemaat, Efesus disapa pertama oleh rasul Yohanes. Itu berkaitan dengan keutamaannya dan kedudukannya yang terkemuka sebagai pusat pekabaran Injil di Provinsi Asia. Tuhan lebih dulu memuji 3 kelebihan jemaat Efesus: mereka bekerja keras

dalam pelayanan, tekun dan sabar dalam menanggung penderitaan, serta murni dalam pengajaran. Tapi mereka

memiliki satu kekurangan, yaitu mereka meninggalkan “First Love” atau kasih mereka yang semula (Why.2:4). Pada awalnya kasih mereka berkobar-kobar, namun sekarang hati mereka sudah mulai dingin. Kasih yang semula bisa diumpamakan

kasih dalam suasana “jatuh cinta” dimana kasih itu begitu menyala-nyala, tidak pura-pura, tidak mau menyakiti orang yang dikasihi, murni, tanpa pamrih, rela berkorban dan

memberikan apa saja demi yang dikasihinya. Kasih seperti inilah yang diinginkan Tuhan. Ini adalah teguran bagi gereja

yang giat, bekerja keras dalam pelayanan, tekun, mengalami

penderitaan, dan memiliki ajaran yang baik, tapi pelayanannya hanya sekedar memenuhi tugas dan bukan didasari oleh kasih kepada Tuhan. Kita mungkin selalu sibuk dengan pelayanan tapi jika hati kita sudah dingin kepada Allah, pelayanan kita

tidak diperkenan Tuhan sebab Tuhan menilai hati. Allah menginginkan kasih kita lebih dari pada persembahan

atau apapun. Sekalipun prestasi pelayanan kita begitu hebat, sekalipun kita menyerahkan seluruh harta kita, dan bahkan menyerahkan diri untuk dibakar, namun tanpa kasih tidak ada

gunanya di mata Tuhan (1Kor. 13:2-3). Jadi biarlah kasih yang menjadi dasar di dalam pertumbuhan iman kita.

      E. TUNTUTAN TUHAN

      Tuhan menuntut jemaat Efesus 3 hal: “Ingatlah, Bertobatlah, Lakukanlah” (Why. 2:5). Pertama, “Ingatlah betapa

dalamnya engkau telah jatuh!” Mungkin kita menganggap diri kita tidak pernah jatuh dalam “dosa besar”, tapi di mata Tuhan belum tentu. Sebab bila kita kehilangan kasih mula-mula

kepada Tuhan, itu sudah merupakan kejatuhan yang dalam di mata Tuhan. Bila orang sudah kehilangan kasih semula pada Tuhan, maka hatinya akan dengan mudah diisi oleh motivasi

pelayanan yang tidak murni. Jika seseorang tidak melayani karena kasih, maka mungkin ia melayani karena pamrih, ingin mendapat berkat, ingin dipuji, ingin mendapat reputasi,

kedudukan, status, dan motivasi lain yang tidak suci. Jika seseorang tidak melayani karena kasih, maka hatinya akan mudah diterpa kemarahan, sungut-sungut, suka mengeluh, iri

hati, dendam, dan kebencian. Kita tahu bahwa dunia ini hancur karena orang-orang yang hatinya dikuasai dendam dan kebencian. Contohnya seperti Hitler. Jadi tentu saja jemaat tidak akan bisa bertumbuh kalau sudah kehilangan kasih yang mula-mula. Tuntutan Tuhan yang kedua,  “Bertobatlah!” Jika kita merasa kasih kita mulai dingin, kita harus segera bertobat, memohon ampun pada Tuhan

dan minta agar Roh Kudus-Nya selalu memenuhi hati kita dengan kasih yang berkobar. Tuntutan Tuhan yang ketiga,

“Lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan!” Artinya layani Tuhan lagi dengan kerja keras (kopos), dengan sabar (hupomone), dengan menjaga kemurnian ajaran, dan

terutama dengan hati yang mengasihi Dia. Miliki sikap hati dan motivasi yang murni untuk Dia. Itulah prinsip pelayanan yang hakiki.

      F. PERINGATAN TUHAN

      Jika tuntutan Tuhan tidak dipenuhi, Dia memperingatkan bahwa, “Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau 

engkau tidak bertobat.” Tujuan kaki dian ialah untuk

memancarkan cahaya atau terang agar dapat menerangi kegelapan. Kegunaan orang Kristen adalah sebagai terang. Jika kaki dian diambil artinya kegunaan kita sebagai alat untuk memancarkan terang pada dunia ini akan dihapus atau diambil oleh Tuhan.

      G. JANJI TUHAN

      Jika tuntutan Tuhan dipenuhi, yaitu kalau jemaat bertobat dan kembali melayani Tuhan dengan kasih mula-mula yang berkobar-kobar, Tuhan akan memberi mereka sesuatu yang

indah yaitu diberi makan buah pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah (Why. 2:7). “Barangsiapa menang ...” artinya barangsiapa yang elah menuruti tuntutan Tuhan ini

mereka adalah pemenang dan boleh makan buah pohon kehidupan. Inilah pahala untuk orang percaya yang setia.

      H. PENUTUP

      Gereja harus bertumbuh karena gereja merupakan pekerjaan Tuhan dan bukan manusia. Tetapi Allah memakai manusia untuk mewujudkan rencana-Nya. Tuhan ingin memakai setiap orang percaya di setiap gereja lokal untuk mewujudkan rencana-Nya. Tuhan akan mengurapi dan 

melengkapi kita untuk membangun gereja-Nya. Namun Dia mau kita mempertahankan kasih kita yang mula-mula. Bekerja keras melayani Dia, sabar menanggung segala sesuatu, dan memegang teguh Firman yang murni, semua itu harus dilandasi kasih yang murni. Maka orang yang setia akan menikmati janji-janji-Nya. 

Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua, Amin!

     DAFTAR PUSTAKA:

• Chris Marantika: Eksposisi Wahyu

• Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: Efesus

• Frank Fosdahl: Eksposisi Perjanjian Baru

• M.Mawene: Teologi Kemerdekaan 

• Peter Wongso: Eksposisi Doktrin Alkitab

• Smith’s Revised Bible Dictionary: Ephesus

GEMBALA

YOHANES 10:11

Pdt. Dr. ADI SUJAKA, M.Th. (Ketua MD. Jatim)

      A. PENDAHULUAN

      Gembala memiliki tugas yang banyak tuntutannya. Tidak heran ada gembala-gembala umat-Nya yang gagal dalam pekerjaan mereka (Zak.11:3; Yes. 56:11). Ironisnya, ada seorang kafir yang oleh Alkitab disebut sebagai gembala, yakni Koresy (Yes. 44:28). Tuhan menyebut Koresy sebagai salah seorang gembala-Nya karena Koresy melakukan segala kehendak-Nya. Koresy mengerti apa kehendak Tuhan bagi umat Israel sehingga ia memulangkan mereka dan mendukung penuh pembangunan Yerusalem dan Rumah Tuhan. Dari kisah ini kita mengerti betapa Tuhan sangat menekankan tanggung jawab setiap gembala atas umat-Nya. Dan jika saat ini ada gembala-gembala yang gagal dalam pekerjaan mereka, maka kita mungkin perlu mengingat kembali hal-hal mendasar dalam penggembalaan seperti: apa tujuan kita menggembalakan, dan bagaimana cara menggembalakan, seperti yang hendak diuraikan dalam tulisan ini.

      B. PENGERTIAN

      Kata gembala berasal dari istilah Yunani “Poimēn” dan bahasa Latin “Pastor.” Penggembalaan disebut “Poimenika” atau “Pastoralia” (pelayanan pastoral). Ada dua macam gembala dalam Alkitab. Pertama, gembala ialah orang yang menggembalakan ternak. Ini adalah suatu pekerjaan yang amat mulia di kalangan orang Yahudi dimana pekerjaan penggembalaan ini dilakukan baik oleh pria maupun wanita, anak-anak laki-laki ataupun perempuan, kaya ataupun miskin. Gembala dalam arti pertama ini dimulai oleh Habel (Kej. 4:2). Kedua, gembala ialah orang yang menggembalakan atau membina manusia, dimana kata ‘Gembala’ dalam Alkitab merupakan sebutan bagi para pemimpin umat Tuhan antara lain: hakim, nabi dan imam (Yes. 63:11; Yer. 2:8), raja-raja (2Sam. 5:2), para pemuka atau tokoh (Nah. 3:18); rasul (Yoh. 21:15), penatua dan penilik jemaat (Kis.20:28), bahkan juga Kristus sendiri disebut sebagai Gembala (Yoh.10:11). Mereka disebut gembala karena sebagai pemimpin mereka juga menggembalakan atau membina umat yang dipimpinnya. Jadi jika pada saat ini sebutan gembala hanya dikenakan pada pendeta yang pemimpin jemaat, namun tidak demikian pada awalnya. Di Israel, Tuhan diakui sebagai Gembala umat-Nya (Maz. 23:1-6; Yes. 40:11). Tuhan Yesus adalah Gembala Agung dan Dia memberi tugas penggembalaan kepada rasul-rasul (Yoh 21:15-17), serta para penatua di bawah pengawasan Allah   (1Pet 5:1-4). Jadi seorang Gembala ialah seseorang yang ditetapkan (dipilih serta dipanggil oleh Tuhan) untuk menggembalakan jemaat milik Tuhan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

      C. TUJUAN PENGGEMBALAAN

      Tujuan penggembalaan ialah pertumbuhan secara kuantitas dan kualitas. Dalam Yeremia 23:3-4 dikatakan domba-domba-Nya akan berkembang biak dan bertambah banyak, tidak hilang seekorpun. Ini bicara mengenai pertumbuhan secara kuantitas, sebab Yesus menghendaki supaya Kerajaan-Nya menjadi penuh (Lukas 14:23). Masalahnya, belum tentu orang-orang yang mengikuti kebaktian di gereja dan berseru “Tuhan Tuhan” betul-betul telah melakukan kehendak Allah dan menyatakan imannya dalam hidup sehari-hari. Sangat disayangkan jika akhirnya mereka ditolak Tuhan. Karena itulah tujuan penggembalaan tidak sekedar pertumbuhan secara kuantitas, tapi terutama juga kualitas yaitu supaya jemaat Tuhan dibangun. Tuhan memberikan gembala-gembala pada jemaat-Nya untuk memperlengkapi jemaat bagi pembangunan tubuh Kristus sampai jemaat mencapai pengetahuan yang benar tentang Anak Allah serta kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus. (Ef. 4:11-13).

      D. SYARAT GEMBALA

      Seorang majikan atau tuan akan menetapkan syarat-syarat bagi para pegawainya. Begitu pula Tuhan sebagai “bos” atau tuan kita. Dia menetapkan syarat-syarat bagi gembala-gembala yang akan menggembalakan domba-domba milik-Nya.

      1. Lahir Baru, Dibaptis dan Penuh Roh Kudus (Kis. 9:17)

      Gembala adalah seorang pelayan Tuhan, maka ia harus telah lahir baru, dibaptis dan penuh Roh Kudus. Yesus telah dipenuhi Roh Kudus sebelum Dia memulai pelayanan-Nya di bumi (Luk. 4:1). Demikian pula dengan rasul-rasul (Kis. 4:31), maupun Paulus (Kis. 9:17). Tuhan kita adalah Tuhan yang kudus sehingga tanpa pertobatan dan kelahiran baru tak seorangpun berhak untuk menjadi gembala dan melayani Dia yang kudus. Tugas penggembalaan juga merupakan tugas yang bersifat ilahi dan agung sehingga hanya orang yang penuh Roh Kudus yang dapat mengembannya dengan segenap hati.

      2. Ditetapkan Roh Kudus (Kis.20:28)

      Paulus mengatakan bahwa seorang gembala ditetapkan Roh Kudus untuk menjaga kawanan jemaat Allah yang diperoleh Allah dengan darah Kristus. Penetapan oleh Roh Kudus itu bersifat pribadi (diketahui dan dirasakan oleh orang itu sendiri). Dr. Lloyd Jones mengatakan apa yang terjadi ketika Roh Kudus memanggil seseorang ialah dimulai dengan suatu “kesadaran” dalam roh orang tersebut, sesuatu yang mengganggu dalam rohnya dan pikirannya, dan ia akan mulai menyadari apa yang harus ia lakukan. Namun meski penetapan Roh Kudus itu bersifat pribadi, orang lain dapat melihatnya dari buah pelayanannya. Sebagai bukti ialah ketika rasul- rasul meminta jemaat mula-mula memilih 7 orang diaken yang dinilai penuh dengan Roh (Kis. 6:3).

      3. Ada Domba-domba (Jiwa-jiwa) yang Dipercayakan (1Pet.5:2-3)

      Kalimat “kawanan domba Allah yang...dipercayakan kepadamu” dalam 1Petrus 5:2-3 menunjukkan jumlah yang jamak atau lebih dari satu. Bisa 2 atau 3, 12, 70, 120, 500, 3000, 5000 dst. Hal ini ditegaskan kembali oleh ART GPdI antara lain: BAB II Pasal 7:3 yang berbunyi, “Jemaat lokal GPdI merupakan suatu kumpulan orang/jiwa yang atas kehendak dan kesadaran sendiri, mengikuti dengan setia kebaktian atau ibadah yang digembalakan atau dipimpin oleh hamba Tuhan GPdI”; ART BAB II Ps 8:1-3; maupun BAB V Ps 12:5c yang berbunyi, “Jumlah jemaat di bawah 25, 25, 50, atau diatas 50.” Ungkapan mereka yang dipercayakan kepadamu” dalam (1 Petrus 5:2-3) juga menunjukkan bahwa para gembala adalah alat Tuhan dan bukan pemilik jemaat yang ia gembalakan karena yang empunya jemaat itu adalah Sang Gembala Agung.

      4. Mengasihi Tuhan (Yoh. 21:15-17)

      Sebelum Yesus berkata agar Petrus menggembalakan domba-domba-Nya, sebanyak tiga kali Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihi-Nya. Pertanyaan Yesus ini bukan karena sebelumnya Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali sehingga Yesus lalu harus memastikan tiga kali tentang kasih Petrus. Itu tidak perlu sebab Tuhan Yesus sudah tahu isi hati Petrus. Pertanyaan Yesus ini merupakan gaya bahasa “Tautology” yaitu gaya pengulangan dalam budaya Ibrani yang biasa dipakai oleh para penulis Alkitab sebagai penegasan atau menandai kemutlakan sesuatu (band. Yes. 6:3). Jadi pengulangan pertanyaan oleh Yesus kepada Petrus mengenai kasih Petrus pada Yesus ini menegaskan bahwa syarat mutlak gembala adalah ia harus mengasihi Kristus. Karena jika orang tidak mengasihi Kristus padahal Kristus telah berkorban nyawa baginya, tentu tidak mungkin orang itu dapat mengasihi sesamanya yang tidak pernah berkorban apa-apa untuknya, selain itu orang yang tidak mengasihi Kristus maka ia akan mengasihi mammon dan mencintai dunia ini. Orang yang demikian tidak layak menjadi gembala domba-Nya.  Kata “kasih” yang dipakai Yesus pada 2 pertanyaan terdahulu adalah “agapao” yang menunjuk kasih yang sempurna, kasih yang paling tinggi dan paling mulia, kasih yang tanpa pamrih. Tapi Petrus tidak berani menjawab dengan “agapao” tapi menggantinya dengan kata “phileo” sehingga kata “kasih” yang dipakai Petrus dalam semua jawabannya adalah “phileo,” yang menunjuk kasih yang lebih rendah dari agapao, masih mengharapkan pamrih atau balasan dari obyek kasihnya, kasih ini tidak sempurna dibanding kasih agape. Namun pada ayat 17 yaitu pada pertanyaan ke-3, kata kasih yang dipakai Yesus adalah “phileo.” Ini artinya bahwa Yesus menerima ketidaksempurnaan kasih Petrus. Tapi selanjutnya Yesus meminta ketaatan Petrus, dan dengan ketaatan itu Petrus akan memuliakan Dia dan kasihnya menjadi sempurna. Artinya, ketika kita bertobat Yesus memang menerima kita apa adanya,   tetapi Dia tidak ingin kita tetap “apa adanya.” Dia ingin kasih kita menjadi sempurna (Mat. 5:48; 2Kor. 13:11). Ketaatan itulah yang dapat membawa kasih kita pada  kesempurnaan (Yak. 1:4; 1Yoh. 2:5).

 

      E. CARA MENGGEMBALAKAN

      Tak hanya menetapkan syarat-syarat bagi gembala, Tuhan juga menetapkan semacam “SOP” atau panduan universal mengenai cara-cara menggembalakan.

      1. Jangan dengan Paksa, tapi dengan Sukarela (1Pet. 5:2a)

      Surat Satu Petrus ini ditujukan kepada para penatua atau gembala di lima propinsi di Asia Kecil yang saat itu mengalami penderitaan karena penganiayaan, tetapi justru mereka diminta untuk melayani dalam bentuk menggembalakan jemaat Allah. Karena itu, tepatlah nasihat Petrus agar mereka tidak melakukan tugas penggembalaan itu dengan terpaksa, melainkan dengan rela. Jemaat di Asia Kecil mulai dianiaya, dan mereka memerlukan gembala yang dapat memberi motivasi, kekuatan, penghiburan, dan pengarahan. Meski sekarang jemaat Kristen bisa dikatakan hidup aman dan sebagian besar tidak mengalami penganiayaan, namun tugas penggembalaan adalah tugas yang berat jika tidak dilaksanakan secara sukarela. Sebab setiap saat para gembala dihadapkan pada pengalaman yang genting: antara mengikuti keinginan sendiri atau keinginan Tuhan yang tidak nyaman bagi daging. Sehingga jika seorang gembala tidak melayani dengan sukarela, maka mereka tidak akan bertahan menunaikan tugas itu.

 

      2. Jangan Mencari Keuntungan, tetapi Pengabdian Diri (1Pet.5:2b)

      Ungkapan “pengabdian diri” dalam bahasa Yunani “Prothumos” dan dalam bahasa Inggris “Willingly” berarti “ingin sekali.” Kata prothumos juga dipakai oleh Paulus dalam Roma 1:15, “Aku ingin untuk memberitakan Injil.” Ini berarti  kesiapsediaan untuk melayani sebab ada keinginan atau gairah di dalam hati untuk mengabdi. Sikap hati dan motivasi ini yang membedakan antara gembala yang benar dengan  gembala upahan. Gembala upahan menggembalakan karena ia digaji, tetapi gembala yang benar menggembalakan karena hatinya mengasihi domba-domba dan diabdikan sepenuhnya untuk mereka. Pengabdian diri bukan berarti menolak uang atau materi dalam pelayanan, tetapi penekanannya bukan pada tujuan uang atau materi, tetapi tujuannya untuk kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya Petrus memperingatkan agar gembala-gembala tidak mencari keuntungan diri sendiri, artinya tujuan penggembalaan bukanlah untuk mencari uang, bukan untuk menjadikan pelayanan sebagai ladang bisnis dan memiliki gaya hidup konsumerisme dan hedonisme. Paulus juga menasihatkan hal ini dalam persyaratan seorang gembala: “bukan hamba uang” (1Tim. 3:3); “tidak serakah” (Tit. 1:7). 

 

      3. Jangan Memerintah tetapi Menjadi Teladan (1Pet. 5:3)

      Petrus menegaskan bahwa melayani  adalah hal yang bertolak belakang dengan memerintah. Seorang gembala tidak sama dengan pemimpin sekuler. Meskipun gembala memimpin gereja namun mereka adalah hamba dan bukan bos, mereka adalah pelayan dan tidak eksklusif. Seandainya jemaat melanggar Firman Tuhan, gembala harus menegurnya, tetapi dengan lemah lembut dan bukan dengan memakai kekerasan. Gembala tidak seharusnya memandang jemaat sebagai bawahannya dan memerintah mereka.

Tetapi gembala harus melihat mereka sebagai mitra kerja, memperlakukan jemaat seperti dirinya sendiri ingin diperlakukan dan menghargai mereka sehingga gembala menumbuhkan iklim bergereja yang menyenangkan dan jemaat bukan hanya merasa “memiliki” tetapi dengan senang hati turut membangunnya. Itu merupakan prinsip dan gaya kepemimpinan gempala yang tidak “nge-bos” dan mengandalkan wibawa atau kuasa, tetapi sungguh-sungguh melayani. Pemimpin sekuler  menggerakkan orang dengan memerintah, tapi pemimpin gereja menggerakkan orang dengan keteladanan, seperti yang telah dicontohkan Yesus sendiri (Yoh. 13:14-15). Jemaat akan lebih mengikuti keteladanan yang ditunjukkan oleh gembala daripada perkataannya. Gembala bisa gagal dalam melaksanakan tugasnya jika mereka sendiri belum memiliki kehidupan yang sesuai dengan Injil dan tidak mampu memberikan teladan yang baik. Itu sebabnya Allah menghendaki agar tidak hanya gembala namun semua anggota keluarganya memberi keteladanan yang baik sehingga jemaat bisa mengikuti keteladanan keluarga gembala tersebut (1Tim.3:2-7).

 

      4. Menggembalakan dengan Integritas & Kecakapan (Mzm. 78:70)

      Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Daud sebagai gembala Israel menggembalakan dengan ketulusan hatinya (ini bicara mengenai integrity). Sebagai gembala, Daud juga menuntun mereka dengan kecakapan tangannya (ini bicara mengenai kecakapan/skill). Kata “domba” dalam perintah Yesus yang pertama kepada Petrus  untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15) adalah “Arnion” yang maksudnya anak-anak domba, domba yang masih kecil. Ini menunjuk pada bayi-bayi rohani. Sedang kata “domba” dalam perintah Yesus yang kedua & ketiga (Yoh. 21:16-17) adalah “Probaton” yang maksudnya domba-domba dewasa. Ini menunjuk pada orang-orang yang sudah dewasa secara rohani. Jadi seorang gembala harus memiliki kecakapan utama untuk memberi makanan yang baik sesuai tingkat rohani jemaatnya. Makanan yang diberikan kepada bayi-bayi rohani jelas berbeda dengan orang-orang yang sudah dewasa rohani. Sebab orang dalam tingkat bayi rohani akan sulit mencerna Firman untuk orang yang sudah dewasa dalam iman dan pengetahuan akan Firman Allah. Sebaliknya, orang yang sudah dewasa dalam iman dan pengetahuan akan Firman Allah tidak akan bisa dipuaskan dengan khotbah-khotbah untuk bayi-bayi rohani. Bisa dibayangkan jika suatu jemaat memiliki tingkat rohani bermacam-macam, maka tugas gembala akan semakin menuntut kecakapan yang tinggi serta lebih banyak hikmat. Itu sebabnya para gembala dituntut untuk belajar secara terus menerus (life-long learning) agar dapat melayani dengan baik. Gembala juga harus cakap dalam mengatur jemaat. Contohnya adalah Titus yang diutus Paulus karena ia memiliki kemampuan khusus  dalam pelayanan kepada jemaat-jemaat yang  bermasalah. Alkitab mencatat Paulus menugaskan Titus ke Korintus untuk menyelesaikan masalah-masalah di sana (1 Kor 1-6; 2 Kor 2:13; 7:5-16). Kemudian Titus berada di Kreta untuk mengatur gereja-gereja di sana (Tit 1:4,5). Dimanapun ia ditempatkan, Titus berhasil sebab ia tahu bagaimana menangani jemaat Korintus yang suka berselisih, orang-orang Kreta yang suka membual, dan orang-orang Dalmatia yang suka berkelahi. Begitulah seharusnya seorang gembala, ia tak hanya cakap mengajar namun juga cakap mengatur dan mempersatukan jemaat dengan roh yang lemah lembut (2Tim. 2:23-26).

      F. TELADAN YESUS SEBAGAI GEMBALA YANG BAIK

      Meski sudah memenuhi semua syarat untuk menjadi gembala domba-Nya, dan juga sudah mengerti cara menggembalakan, namun pembelajaran terbaik adalah dengan keteladanan. Karena itu Yesus telah memberi kita teladan bagaimana menjadi gembala yang baik

     

      1. Menuntun, Berjalan di Depan, (Yoh. 10:3-4)

      “Menuntun” berarti bahwa Yesus sebagai gembala yang baik tidak mengendalikan domba-dombanya dengan ikatan tali melainkan berjalan di depan mereka dan memimpin mereka ke air dan padang  rumput. Domba-domba itu tidak mengikuti-Nya dengan terpaksa karena diikat, diseret atau dikendalikan dengan alat. Tapi domba-domba itu mengikuti dengan sukarela dan mendengarkan suara Yesus sebagai gembala karena tahu bahwa ia sedang dipimpin atau dituntun ke jalan yang benar. “Berjalan di depan” tidak berarti bahwa Yesus sebagai gembala menjadi pusat perhatian untuk diperhatikan dan dihormati jemaat. “Berjalan di depan” artinya Yesus sebagai gembala harus merintis jalan lebih dulu bagi jemaat agar mereka bergerak ke arah yang benar sesuai kehendak Allah. Hal ini juga berarti menjadi panutan atau teladan bagi jemaat sehingga jemaat mengikuti gembala yang baik itu.

      2. Memberi Makan (Yoh. 10:9)

      Yesus sebagai gembala yang baik memberi makanan yang baik yang dibutuhkan domba-domba-Nya (Yeh. 34:14). Makanan itu artinya Firman Tuhan yang membawa kepada kehidupan, artinya ialah keselamatan (Yoh. 10:9-10). Demikian pula ketika Yesus memerintahkan kepada Petrus,  “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata “gembalakan” dalam Yohanes 21:15 ini menggunakan kata “Boske” yang berarti “memberi makan.” Jadi gembala harus tahu bagaimana memberi makanan untuk domba-domba yang masih bayi maupun domba-domba dewasa. Jemaat yang masih bayi rohani harus diberi susu, artinya Firman Tuhan mengenai dasar-dasar Injil dan dasar Alkitab sederhana untuk bertumbuh agar mereka bisa tumbuh sehat dan kuat dan nantinya bisa menjadi jemaat-jemaat dewasa yang kuat. Selain itu gembala juga harus mengetahui dengan pasti mengenai jemaat-jemaat bayi yang baru bertobat apakah mereka benar- benar sudah bertobat dan lahir baru? Karena jika ternyata mereka belum bertobat, sangat disayangkan jika mereka “merasa” sudah selamat karena sudah masuk gereja. Gembala juga harus bijaksana sebab jemaat yang belum benar-benar bertobat dapat menjadi sumber perpecahan di dalam gereja. Jemaat yang sudah dewasa membutuhkan makanan keras agar mereka siap berjuang sebagai prajurit Kristus yang memenuhi panggilannya sebagai terang di manapun mereka berada melalui kemenangan-kemenangan mereka atas pencobaan dan ujian.

      3. Punya Tanggungjawab dan Kepedulian pada Domba-domba-

           Nya (Yoh. 10:11-13)

      Yesus sebagai gembala yang baik tak hanya memberi makan tapi juga  memperhatikan domba-domba-Nya bahkan memberikan apapun termasuk nyawa-Nya bagi mereka. Dia mencari yang hilang, membawa pulang yang sesat, membalut yang luka, menguatkan yang sakit, dan elindungi yang sehat (Yeh. 34:16). Gembala domba di Israel punya kebiasaan tidur tepat di mulut pintu atau di mulut tembok untuk menjaga domba-domba dari pencuri maupun binatang buas, siap melawan apapun yang akan mengancam dombanya. Tetapi gembala upahan tidak memiliki tanggung jawab dan kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap domba-domba sehingga memilih menyelamatkan diri saat bahaya mengancam dombanya. Kata “gembalakan” dalam perintah  Yesus pada Petrus memakai dua kata yaitu “Bosko” (Yoh. 21:15) dan “Poimano” (Yoh. 21:16-17). Kedua kata tersebut sama-sama berarti “memberi makan atau menggembalakan” tapi kata “Poimano” lebih spesifik karena selain memberi makan juga memiliki makna merawat serta memelihara. Jadi gembala yang baik tak sekedar memberi makanan yang berlimpah kepada setiap dombanya, namun ia juga merawat dan menjaga mereka. Mengobati yang  sakit dan terluka, menerima dengan hangat dan terbuka mereka yang tertolak dan tersisih, berdoa serta berjaga-jaga atas keselamatan jiwa mereka agar jangan sampai mereka direbut oleh serigala (iblis). Gembala perlu menyediakan ruangan yang tenang dan waktu khusus agar ia dapat berbicara dengan leluasa dengan orang-orang yang ragu, memiliki masalah, “tersesat” dan “terhilang.” Jangan menunggu mereka datang tapi undang dan ajak mereka datang dan berbicara. Sebab gembala harus mencari yang tersesat dan terhilang.

      4. Mengenal Domba-domba-Nya (Yoh.10:14)

      Yesus sebagai gembala yang baik mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba itu mendengarkan suaranya. Pengenalan terhadap para domba dibuktikan dengan  memanggil nama domba-domba-Nya menurut namanya (Yoh.10:3 band. Yoh. 1:43). Dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa hubungan yang  akrab itu membuat domba-domba-Nya tidak akan mendengarkan orang asing yang akan menyesatkan mereka (bicara mengenai nabi palsu, guru palsu). Pada intinya, gembala memang menggembala “kawanan” yaitu sekelompok orang, tapi harus memperhatikan dan membimbing mereka “satu per satu” sama seperti yang dilakukan Yesus.

 

      G. PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN GEMBALA

      Pada dasarnya Tuhanlah yang mengangkat seseorang menjadi gembala (Yeh. 34:23), sedang organisasi hanya mengonfirmasi dan melegalisir dengan melihat dari buahnya. Tuhan mengangkat gembala dan Dia melakukannya melalui gereja sebagai kepanjangan tangan-Nya (Rm. 10:15). Jadi meski pada dasarnya Tuhan yang mengangkat gembala, tetapi tidak ada seorangpun yang boleh menetapkan dirinya sendiri untuk menjadi pengkhotbah, penginjil, ataupun gembala tanpa ada elemen pengutus seperti gereja dan organisasi Kristen lainnya. Karena Tuhan yang mengangkat gembala maka Tuhan pula yang akan memberhentikan gembala-gembala yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar. Domba yang tersesat itu tidak berdaya sebab ia tidak dapat menemukan jalan pulang sehingga domba ini harus dicari oleh gembala. Begitulah jiwa-jiwa yang tersesat, mereka harus dicari dan ditemukan, dan dibawa kembali kepada Allah oleh gembala. Hal itu perlu kasih sayang dan ketekunan gembala sebab ia akan menghadapi banyak kesukaran dan tantangan. Jadi jika gembala tidak memiliki kasih sayang dan ketekunan untuk mencari jiwa yang tersesat, tidak menguatkan yang lemah, tidak menyembuhkan yang jiwanya terluka, tetapi malah memperhatikan dirinya sendiri, maka Tuhanlah yang akan memberhentikannya (Yeh. 34:10).

 

      H. UPAH PARA GEMBALA

      Manusia memiliki sifat dasar ingin dilayani dan bukan melayani. Tapi pelayanan seorang gembala mengajak melakukan hal yang sebaliknya, yakni tertuju kepada kepentingan Tuhan dan orang lain, mencari dan melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain. Namun ada upah yang disediakan Tuhan bagi gembala yang setia, yaitu Mahkota Kemuliaan yang tidak dapat layu (1Pet. 5:4). Petrus menyebut Mahkota Kemuliaan yang tidak dapat layu” karena ia membandingkan dengan mahkota para atlit yang biasanya berupa karangan bunga atau daun-daunan yang cepat layu. Itulah dorongan dan harapan bagi kita para gembala agar melayani dengan setia dan penuh tanggung jawab sampai kedatangan Kristus, Sang Gembala Agung itu. Amin.

 

      PUSTAKA:

• Eddy Peter P.: “Gembala dan Panggilannya”

• Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: “Gembala”

• Keith Schooley: “What is a Pastor?”

• Lloyd-Jones: “Preaching and Preacher”

• M. Bons Storm: “Apakah Penggembalaan Itu?”

• Merrill C. Tenney: “Pastoral Letter”

• Phillip G. Carnes: “Like Sheep Without A Shepherd”

• Warren W. Wiersbe : “Pengharapan di dalam Kristus

MENJADI GEMBALA JEMAAT YANG UNGGUL

1 KORINTUS 2:1-5

Pdt. Dr. HARI MULYONO, M.Pd.K (SEKDA MD JATIM)

        Firman adalah perkataan yang harus dinikmati oleh domba, dan domba harus dipuaskan dengan jamuan tersebut, jangan sampai ada jemaat yang menikmati jamuan makan melalui penyampaian firman Tuhan dari Gembalanya, tidak menjadi sehat dan lebih sehat, bahkan bisa menjadi sakit, karena itu gembala jemaat sebelum memberikan makan jemaat, harus menikmati dahulu hidangan yang akan disajikan, supaya memastikan menu makanan tersebut adalah menu yang sehat dan memberkati. Jadi jika Gembala Jemaat mau memberikan makan jemaat dengan satu piring, gembala sudah duluan menikmati dua piring.

       Bentuk seperti itu, merupakan bentuk pelayanan yang sehat, hanya Gembala Jemaat yang memiliki keunggulan, dipastikan dapat memberikan makanan terbaik bagi jemaat, dan Gembala Jemaat yang unggul, dapat dilihat dalam muatan yang dimilikinya:

  1. Gembala Jemaat Harus memiliki kepintaran

       Untuk menjadi pintar memerlukan pengorbanan sebab kepintaran tidak diturunkan oleh Tuhan dari sorga, gembala jemaat seyogyanya memiliki hubungan yang intim dengan Roh Kudus (Guru Agung), Sang pemberi hikmat, karena bagi jemaat, gembalanya menjadi sumber jawaban atas ragam masalah yang dihadapinya dan keluarganya, Gembala menjadi Counselor yang baik, saat jemaat berkonsulitasi (counseling) dengan orang tua rohaninya. Tidak ada kata tua untuk belajar, maka tetaplah belajar.

   2. Gembala harus memiliki kualitas diri (karakter baik)

       Kepintaran itu perlu, tetapi Gembala yang berkarakter itu penting. Karena setiap murid Yesus merupakan ciptaan baru, sebagai ciptaan baru, tetap menampilkan hal-hal yang baru, apakah di depan layar maupun di belakang layar, jangan kepintaran Gembala Jemaat di mimbar sangat bersinar, tetapi tanpa setahu jemaat,  ada sepak terjangnya yang tidak menjadi berkat, Gembala yang berkarakter teruji, akan tampil terpuji di hadapan jemaat maupun di hadapan orang-orang asing di sekitarnya.

   3. Gembala harus memiliki kecakapan

       Pintar dan berkarakter, sebaiknya memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan baik, gembala perlu hidup di dalam keseimbangan, jangan ketika di jalan penuh berkat, begitu tampil hebat, tetapi saat mengalami beban berat, justru nyaris murtad. Ketrampilan (skill) sangat perlu, jangan monoton tanpa inovasi, tetapi inovasi juga harus dalam bentuk kontribusi prestasi.

   4. Gembala jemaat harus kuat

       Sebagai Gembala Agung, Yesus mengalami banyak terpaan, nihil dalam perbuatan tanpa kebaikan, setiap hari hidup-Nya penuh dengan kebajikan, tetapi terpaan tidak dapat dielakkan, bahkan terpaan semakin tidak berprikemanusiaan, Yesus tidak pernah menyalahkan orang lain, lingkungan, bahkan Yesus tetap mempermuliakan Bapa-Nya, Yesus tetap kuat di tengah badai yang dahsyat. Ujian dibutuhkan, karena melalui ujian level kita semakin ditingkatkan, kita pasti kuat oleh karunia rohani (Rm.1:11)

   5. Gembala Jemaat harus awet

       Sekali melayani Tuhan, tetap sampai  maut menjemput setia dan taat melayani Tuhan. Itulah pesan khusus kepada malaikat jemaat yang dipuji “Smirna”, di tengah kesulitan yang dahsyat, tetap setia sampai mati, agar memperoleh mahkota kehidupan (Why.2:10), jangankan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, bahkan dalam tanggung jawab kita sebagai suami isteri, harus tetap awet (Mat.19:6)

 

       Mari sebagai gembala yang unggul, kita belajar dari rasul Paulus, beberapa poin penting disampaikannya kepada jemaat di Korintus, itu semua dapat kita pelajari dan kita teladani, yaitu:

Gembala Jemaat harus berpusat kepada Gembala Agung

       Kita menjadi gembala jemaat itu merupakan kepercayaan dari Gembala Agung, karena itu, pusat pelayanan kita harus Yesus satu-satunya, semua bentuk permuliaan, harus dikembalikan hanya kepada Yesus. Paulus tidak mau merepotkan diri mengetahui banyak hal tentang jemaat di Korintus, fokusnya kepada Yesus yang disalib (1 Kor.2:2), bagi Paulus semua pelayanannya kepada jemaat, itu bentuk tanggung jawabnya kepada Yesus, maka semua dikerjakan dengan mutu yang baik, supaya Kepala Gereja yaitu Yesus dipermuliakan, oleh jemaat yang mengalami kelegaan dari pelayanan Paulus.   

Gembala harus mengosongkan diri

       Paulus bisa dikategorikan sebagai gurus besar karena keahliannya dalam hukum Taurat, tetapi semua itu tidak dibuatnya menjadi modal utama, justru dia membangun diri seakan dalam kelemahan, sangat takut dan gentar melaksanakan tugas pelayanannya (1 Kor.2:3), ini menunjuk kepada: Pelayanannya tidak ada niat untuk kepentingan diri sendiri, tidak ada kesombongan karena posisi masa lalunya, tidak mau mengandalkan kekuatannya, seperti konsep yang dibangun oleh Yohanes pembaptis: Dia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku (Yohanes) harus makin kecil (Yoh.3:30)

 

Gembala jemaat menyadari keterbatasan dirinya

       Bagi kebanyakan orang, kepintaran Paulus sama dengan hikmat hebat yang dimilikinya, tetapi Paulus tidak mengandalkan kata-kata himatnya tersebut (1 Kor.2:4,5), meski dia sangat pintar dengan 14 kitab yang disajikannya – 51,8% dari 27 kitab di Perjanjian Baru – agar tetap rendah hati, dia tidak gengsi menyampaikan dalam suratnya, keterbatasan dirinya tersebut. Untuk membuatnya sebagai hamba Tuhan yang bergantung sepenuhnya kepada hikmat dari Tuhan, bukan hikmat dari manusia.

 

Gembala Jemaat harus penuh dengan urapan Roh Kudus

       Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya (Ef.1:19). Ada kalanya hamba Tuhan menyampaikan alasan seperti Musa: ketidakmampuan. Bagi Tuhan bukan prihal mampu atau tidak mampu, bagi-Nya cukup mau atau tidak mau. Setiap kita yang mau, Dia hadir untuk memberikan kemampuan (kuasa), karena Roh Kudus diberikan untuk membuat orang yang mau supaya mampu, bahkan hamba-Nya yang mau namun ada dalam kelemahan, berserah penuh kepada Tuhan, maka kuasa Tuhan semakin dinyatakan dengan sempurna (2 Kor.12:9), sebab Roh Kudus membantu kita saat kita di dalam kelemahan (Rm.8:26). Akhir zaman adalah masa banyak sekali tantangan kesulitan dialami oleh setiap gembala jemaat di dalasm pelayanan, saat teduh memohon urapan Roh Kudus, itu sangat penting, dengan urapan Roh Kudus, kita pasti mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang besar, itu yang dijanjikan Yesus bagi setiap hamba-Nya (Yoh.14.12).

INGAT AMANAT TUHAN DI AKHIR ZAMAN YANG PENUH TANTANGAN

MATIUS 24:13,14
Pdt. HENDRIK RUNTUKAHU (Ketua Penasihat MD)

PENDAHULUAN

       Kita sedang berada di akhir zaman, bahkan di akhir dari akhir zaman, beberapa pandangan agama-agama tentang akhir zaman:              -  Dalam ajaran Islam, akhir zaman yang akrab disebut kiamat, merupakan peristiwa didahului oleh munculnya Imam Mahdi di atas

          kuda putih dengan otoritas penuh dari Isa Almasih, di hari kiamat tersebut, Imam Mahdi akan menang atas Dajjal (mesias palsu)

      -  Agama Hindu: waktu akhir terjadi peristiwa inkarnasi terakhir dari Wisnu, turun di atas kuda putih, hadir untuk mengalahkan

         Kaliyuga (zaman kegelapan 432.00 tahun)

      -  Agama Budha: ramalan sang Budha, ajaran moralnya akan dilupakan setelah 5.000 tahun, ditandai dengan beragam kekacauan

          terjadi di bumi, dan kehancuran terakhir dunia

       Alkitab sangat rinci memaparkan tentang keadaan di akhir zaman, tidak jauh berbeda dengan pandangan agama lain, namun jika kita melihat tanda-tanda yang terjadi di akhir zaman, diantaranya:

  • Tanda alam: bencana yang dahsyat terjadi silih berganti, gunung meletus, sunami, gempa bumi

  • Tanda negara: yang kuat akan menunjukkan kedigdayaan, terjadilah peperangan yang dahsyat antar negara dan kelompok negara

  • Tanda manusia: yang dulu tabu di akhir zaman menjadi diminati, hukum tidak berpihak kepada kebenaran tetapi kepada HAM

       

LANGKAH NYATA MENYAMBUT MARANATA

       Belajar dari pesan khusus Yesus, sebelum kedatangan-Nya yang kedua, manusia berada di akhir zaman, semua peristiwa di luar diri manusia – yang bertobat dan ingat pada amanat – kata petunjuk yang dipergunakan adalah semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru (Mat.24:8): peperangan, bencana alam, penyakit aneh, penyesatan, kemurtadan; berbeda halnya dengan orang yang bertahan dalam iman dan setia mengabarkan Injil Kerajaan dan mendemonstrasikan kesaksian kepada semua bangsa; kata petunjuk yang dipergunakan: sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Mat.24:13,14).

 

       1. Alam pasti berkontribusi

       Banyak orang berkunjung antar negara, hanya karena kekaguman akan ciptaan Tuhan, Daud menyatakan: meski alam tanpa suara, tanpa kata, namun gema mereka – langit, cakrawala, hari, malam, isi alam – terpencar ke seluruh dunia (Mzm.19:1-7); tidak heran alam yang sama yang berkotribusi untuk memberitakan pekerjaan tanganTuhan, akan juga berkontribusi menyambut kedatangan Sang Pencipta alam di akhir zaman.

 

       2. Peperangan tidak bisa dihindari

       Peperangan (dalam arti lain pertandingan) sudah menjadi keinginan orang yang menunjukkan bahwa dirinya hebat, negara-negara majupun, ingin menunjukkan bahwa dirinya hebat, caranya adalah dengan berperang atau menyerbu (invasi) negara lain dan memenangkan peperangan.

 

       3. Antikristus semakin membrangus

       Antikristus tidak hadir seperti alam dan negara, dia menjelma menjadi ciplakan pribadi Yesus: sebagai guru: memberikan pengajaran yang lebih mudah diterima oleh logika, menihilkan dampak dosa secara sadar (2 Tim.3:5) ; sebagai mesias: mendemonstrsikan perbuatan ajaib.

 

       4. Asusila merontokkan nilai mulia

       Meski di bungkus rokok ditulis: merokok membunuhmu, nyatanya cukai rokok menjadi penyumbang terbesar keuangan negara; meski bandar narkoba dihukum mati, nyatanya narkoba masih merajalela; meski perzinahan diharamkan, dan mendatangkan penyakit mematikan (aids, hiv) nyatanya masih diidamkan. Dengan kasih yang semakin dingin, kesukaran bukan hanya karena bencana alam, peperangan, antikristus, tetapi juga manusia menjadi amoral dan semakin brutal: pemfitnah, pemberontak, penghianat, bahkan terjadi di jemaat yang rajin beribadah (2 Tim.3:1-5)

Maranata pasti nyata, namun harus melewati akhir zaman, apa yang seharusnya diperhatikan oleh setiap hamba Tuhan?

 

       1.  Anak Manusia tidak tahu kapan Dia datang kembali??

       Dia yang pasti datang kembali, tetapi Dia tidak mengetahui?? Bukankah Yesus Allah yang Maha tahu?? Sebelum Dia kembali ke Rumah Bapa, para murid menanyakan kapan Yesus memulihkan kerajaan bagi Israel? Justru Yesus tidak menjawab, malah mengingatkan agar para murid jangan masuk ke ruang yang menjadi bagiannya Tuhan, tetapi Dia berjanji memberikan kuasa melalui kehadiran Roh Kudus. Dari diskusi ini dipastikan kemauan Yesus:

  • Kita memiliki kapasitas yang tidak terbatas dengan hadirnya Roh Kudus

  • Kita mengerjakan bagian kita yang tak terbatas dan terus berkembang dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis.1:6-8)

       Jangan karena Yesus tidak memberi tahu kapan Dia datang kembali, lalu kita yang masih di dunia tidak mau tahu, tentang keinginan-Nya yang menjadi bagian kita, agar Dia datang kembali.

       Kita masuk kelompok yang mana??  Petrus menegaskan akan ada dua kelompok di akhir zaman, yaitu:

       -  Di awal percaya Yesus akan datang, tetapi kemudian menjadi pengejek tentang kedatangan Yesus kembali (2 Ptr.3:3,4)

       -  Yang menantikan dan bertindak untuk mempercepat kedatangan hari Allah (2 Ptr.3:11,12)

       Sesungguhnya dari pada kita berdebat dengan kondisi di akhir zaman – khususnya mengenai nubuatan-nubuatan – mari kita sibuk memacu diri, tentang apa yang dikehendaki Yesus, yang harus kita kerjakan di akhir zaman ini. Perhatikan kata kunci yang disampaikan Yesus tentang akhir dari akhir zaman, yaitu kedatangan Yesus kembali menjemput orang percaya (Yoh.14:3; 1 Tes.4:16,17), Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya (Mat.24:15)

 

       2.  Maranata terjadi setelah pekabaran Injil merata

       Ini tidak berkaitan dengan mampu atau tidak, tetapi mau atau tidak:

  • Mantan dirasuk Legion (satu batalyon setan), disembuhkan Yesus dan akhirnya menjadi saksi Kristus di Provinsi Dekapolis

  • Pelacur setelah bertemu Yesus di siang bolong, bertobat dan segera menjadi saksi di Provinsi Samaria

       Yesus membangun pemahaman dengan tiga ilustrasi (Mat.25): Gadis bijaksana yang terus menerangi sekitar dengan pelitanya; pemilik talenta yang dipuji, mereka yang terus mengembang; yang diletakkan di sisi kanan-Nya hanya mereka yang menjadi alat Tuhan bagi orang yang membutuhkan

Jadikanlah semua bangsa murid-Ku melalui pemberitaan firman Kristus (Mat,28:19; Rm.10:17), untuk itulah Roh Kudus diberikan, supaya kuasa dari tempat maha tinggi, memampukan kita mewujudkan Amanat Yesus.

 

       3.  Maranata tiba setelah kita menjadi saksi Kristus

       Ada hal yang menarik saat orang percaya kepada Yesus menjadi saksi-Nya:

  • Setelah orang percaya bersaksi, barulah Roh Kudus akan bersaksi (Yoh.15:26,27). Jadi kita harus bersaksi

  • Oleh perkataan kesaksian kita, Iblis dikalahkan (Why.12:11): ini bagian kita, sedangkan bagian Yesus adalah darah-Nya

       Kita merupakan surat Kristus yang terbuka, yang dibaca oleh semua orang, lalu dikenal, jika hidup kita seperti Kristus, maka kita akan dipuji (2 Kor.3:2,3). Mari kita menjadi terang dunia melalui perbuatan baik yang mempermuliakan Bapa (Mat.3:16), ingat terang yang kita miliki sama dengan kemuliaan Tuhan terbit atas kita (Yes.60:2), mari kita seperti pohon yang berbuah lebat dan lezat, bukti kita murid Yesus, mereka menikmati buah itu lalu mereka mempermuliakan Bapa di sorga (Yoh.15:8)

       Ingat, kehidupan di sorga itu penuh dalam kemuliaan dan dalam kekekalan, itu hanya akan kita terima sebagai upah, setelah kita berhasil dengan Roh Kudus, melaksanakan kewajiban kita dengan mengisi setiap hari menjadi berarti (Mzm.90:12,16,17), jangan biarkan ciptaan Tuhan  yang lain menyatakan kemuliaan-Nya, kita yang memiliki kemuliaan Tuhanlah yang terus menerus mempermuliakan Dia (Mzm.119:164; Kis.4:20; 1 Ptr.2:9).